Text

SELAMAT DATANG, SELAMAT SAMPAI TUJUAN

Minggu, 01 Januari 2012

Stand Up Comedy, sebuah permainan linguistik

Stand Up Comedy merebak bak jamur akhir-akhir ini di Indonesia. Sebuah jenis pertunjukan komedi  yang mengetengahkan konsep penampilan tunggal oleh pemain yang dijuluki comic. Pertunjukan Stand up Comedy pada mulanya berkembang di eropa dan amerika pada abad ke-18 atau 19. Awalnya pertunjukan ini dipertunjukkan di aula pertunjukan musik. Pada tahun 1979 di Inggris terbentuk sebuah kelompok Stand up Comedy gaya amerika pertama yang didirikan oleh Peter Rosengard. Seiring dengan dibentuknya kelompok ini kemudian mulai bermunculan kelompok-kelompok Stand up Comedyi sejenis di berbagai penjuru dunia yang kemudian semakin menancapkan eksistensinya.
Seiring berjalannya waktu komunitas-komunitas dan pertunjukan Stand up Comedy menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Di kawasan asia banyak comic-comic terkenal yang muncul dari seni Stand up Comedy ini, contohnya Akmal Saleh dari Malaysia, Paul Ogata dari Singapura, Johny Lever dari India, Dany Cho dari Korea Selatan, serta di Indonesia baru-baru ini muncul nama-nama seperti Butet Kertaradjasa, Pepeng, Taufik Savalas, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan lain-lain.

Comic menampilkan stand up comedy dengan teknik penyampaian cerita humor atau jokes secara one-liner atau cerita yang terdiri dari beberapa kalimat, biasanya dua sampai tiga kalimat singkat yang terdiri dari beberapa premis. Premis ini terdiri dari Setup dan Punchline. Setup merupakan premis yang merupakan ungkapan atas situasi yang dapat diterima oleh penonton atau fenomena dari kebiasaan sehari-hari, sedangkan punchline merupakan bagian yang menciptakan dampak kelucuan dari premis sebelumnya, dengan cara mematahkan konsep premis setup sebelumnya dengan premis lain yang berlawanan atau tidak sejalan dengan premis setup.

Contoh:  "I don't smoke, i don't drink, i don't  snort, and i don't a gamble. I do lie a little bit through"
               "Im not an actor. But i play one on TV."

Contoh pertama "I don't smoke, i don't drink, i don't  snort, and i don't a gamble." Kalimat ini merupakan setup dari premis tersebut. kemudian dipatahkan melalui Punchline "I do lie a little bit through". Comic  bercerita bahwa ia tidak melakukan di premis pertama, tetapi di premis kedua ia mengatakan bahwa ia berbohong atasnya. Dengan dipatahkannya premis pertama di premis kedua maka muncullah kelucuan.
Contoh kedua "Im not an actor. But i play one on TV." Premis pertama "Im not an actor" masih dapat diterima penonton , tetapi hal itu kemudian dipatahkan di premis kedua dengan  "But i play one on TV" kalimat ini mengandung kelucuan. Di kalimat sebelumnya ia mengatakan bahwa ia bukan seorang aktor, tetapi ia pernah bermain sandiwara sekali di sebuah televisi.Lantas apakah premis pertama masih bisa dibuktikan kebenarannya? Disanalah letak kelucuannya.
Contoh lain dapat kita lihat pada konten humor stand up comedy Ryan Adriandhy, pemenang pertama kompetisi stand up comedy di salah satu stasiun TV swasta indonesia, pada penampilannya di grand final kompetisi tersebut.Ia sempat membahas rahasia keapikan konten humor yang tercipta lewat stand up comedy-nya. "Gue ga mau fitness karena ga mau mandi bareng cowok-cowok lain....... Gue takut suka", begitulah kalimat humor ryan dalam penampilannya. Dalam kalimat ini "Gue ga mau fitness karena ga mau mandi bareng cowok-cowok lain" merupakan setup dari premis utama dan "Gue takut suka" merupakan bagian kelucuannya (punchline). Dalam premis setup humor ini, konteks kalimat masih dapat diterima penonton karena alasannya masih logis. Kemudian di premis berikutnya ia mematahkan premis pertama dengan ungkapan yang menimbulka efek lucu karena ungkapan "gue takut suka" yang pada dasarnya menyimpang dari kenyataan yang lazim ditemui di masyarakat. 
Humor verbal pada dasarnya merupakan suatu bentuk permainan kata atau permainan bahasa.Hal ini dapat diteliti seacara linguistik sebagai salah satu cabang  ilmu yang meneliti fenomena kebahasaan. Linguistik memiliki banyak anak cabang ilmu yang dari kesemuanya dapat menciptakan suatu bentuk humor verbal jika penggunaannya tidak pada tempat semestinya.
Fonologi sebagai ilmu bahasa yang menyibukkan diri dengan satuan terkecil kebahasaan, yakni bunyi. Satuan bunyi terkecil yang disebut dengan fonem merupakan bagian yang menciptakan bunyi-bunyi yang kemudian kita kenal dengan susunan alfabet. Lewat teori ini bisa muncul humor verbal seperti kesalahan pengucapan yang sebenarnya juga merupakan wilayah psikolinguistik.
Morfologi sebagai ilmu yang menyibukkan diri dengan pembentukan kata juga dapat menjadi bahan humor verbal. Kesalahan pengucapan kata atau sering dinamakan "keseleo lidat" atau salah ucap bisa menjadi bahan humor. Seperti kata salah ucap yang sempat dilakukan oleh salah satu pembaca berita yang ingin mengatakan "perjumpaan di studio metro TV", namun terucap olehnya "di studio "metro mini"". Kata metro mini memiliki makna yang tentu berbeda sekali dengan metro TV. Lantas hal ini dapat memunculkan kelucuan. Konteks perbedaan makna tadi sebenarnya merupakan kajian semantik, yakni cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna tanda kebahasaan. Namun wilayah yang disoroti adalah wilayah kata yang notabene wilayah morfologi.
Cabang linguistik lain yang juga berpotensi memunculkan humor verbal adalah Pragmatik, sebuah ilmu yang mempelajari hubungan suatu tanda kebahasaan didasarkan pada konteks pemakaian, fungsi dan makna yang ditimbulkan. Pragmatik dan Semantik masih memiliki ruang lingkup wilayah kajian yang hampir sama, namun memiliki perbedaan mendasar yang bisa memisahkan jarak kedua ilmu ini.Geoffrey Leech membedakan kedua bidang ini dengan batasan bahwa semantik sebagai kajian yang dyadic dan mendefinisikan makna sebagai satuan ciri-ciri tertentu suatu bahasa dan terpisah dari cara penggunaannya lewat penutur, petutur, dan konteks, sedangkan pragmatik sebagai kajian triadic dan membahas makna yang timbul dari suatu tanda kebahasaan lewat konteks penggunaan bahasa oleh penutur dan petuturnya.
Contoh materi one-liner  diatas merupakan suatu contoh penerapan konsep pragmatik kebahasaan, dimana premis-premis yang tersusun menciptakan suatu kesinambungan tetapi makna yang timbul saling bertentangan dan hal ini hanya dapat dipahami secara pragmatik. Ketika mendengar premis pertama, pendengar akan memiliki konsep presuposisi (praduga) yang lazim sesuai dengan kalimat tersebut serta masih dapat diterima. Namun pada premis yang mengandung punchline konteks tersebut dibalikkan dan  melanggar maksim relevansi serta presuposisi yang ternyata tidak terbukti benar secara utuh. Nah, pelanggaran inilah yang kemudian memunculkan kelucuan.
Fenomena-fenomena yang lazim terjadi di masyarakat sering kali menjadi bahan para comic untuk suguhan humornya. Seperti yang dilakukan raditya dika dalam salah satu kesempatan stand up comedy-nya. Berkut saya berikan transkripsinya:
 "Gue paling ga ngerti dengan Sm*sh terus terang, pertama kali gue ngelihat sm*sh, ada tujuh orang laki-laki, ya semi laki-laki, dia nyanyi-nyanyi kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu, lo jangan-jangan hepatitis! gitu gue pikir jangan jangan, kenapa ginjalku berdarah, kenapa paru-paruku basah, gue ga tau..!!! gue ga tau kenapa! Dan yang paling gue sebelin yah, baju mereka tuh ada yang belahan dadanya sampai sini (sambil menunjukkan bagian bawah dada), ada yang udah lihat video klipnya ga? kenapa hatiku cenat-cenut, belahan dadanya sampai sini. Lo mau nyanyi apa "menyusui" sebenarnya ga tau! ...... Banyak band indonesia yang gue ga ngerti nama bandnya juga udah aneh-aneh. Ada nama band indonesia yang namanya Hijau Daun, ada band jazz lain yang namanya Klorofil. Mungkin mereka manggung satu panggung jadinya Oksigen. Lihat!!! Mereka berfotosintesis!"
Premis-premis yang tersusun diatas mampu menciptakan gelak tawa penonton yang  melihatnya. Secara pragmatik, premis diatas merupakan bentuk humor yang tercipta karena penggunaan fenomena bahasa sesuai dengan situasi kondisi namun saling bertentangan dengan kelaziman fungsi yang terkandung didalamnya. Bagian pertama ketika Raditya Dika menciptakan humor lewat candaan lirik lagu smash. Disana lirik lagunya berisi "kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu", dipelesetkan oleh dika dengan menduga personil smash ini terkena penyakit hepatitis dikarenakan hatinya sering cenat-cenut. Konteks ini tentu sudah berbeda.  Lirik lagu smash tersebut bukanlah mengacu kepada sebuah penyakit, namun oleh Dika dihubungkan dengan konteks penyakit, karena masih adanya persinggungan makna antara kata yang digunakan, yakni cenat-cenut di hati, lantas penyakit yang sering timbul di bagian hati adalah hepatitis. Maka, terciptalah humor. Kualitas humor kemudian dinaikkan ketika ia memberi pernyataan atas tanggapan lirik tersebut dengan "kenapa ginjalku berdarah? kenapa paru-paruku basah?" dua pertanyaan ini masih memiliki hubungan dengan premis awal dan berfungsi untuk menambah rasa humor dari presmis yang ia gunakan.
Premis berikutnya adalah baju. Dika menyinggung personil smash yang suka berpakaian dengan belahan dada yang terbuka lebar sehingga menampakkan belahan dada. Ia kemudian menghubungkan konteks ini dengan menyusui, karena biasanya ibu yang menyusui membuka salah satu bagian dada pakaian mereka agar dapat menyusui anaknya. Permainan pragmatis kembali digunakan dika disini, dimana konteks trend pakaian personil smash dan kebiasaan ibu menyusui yang memberlakukan pakaian mereka ketika menyusui didudukkan dalam satu wilayah makna pragmatis yang sama. 
Premis berikutnya adalah nama kelompok musik. Dika menekankan lagi permainan semantik (makna) disini, ketika ia menyebutkan ada band yang bernama Hijau Daun, disisi lain ada band yang bernama Klorofil. Kedua nama band ini berhubungan dengan ilmu biologi. Kemudian ia mempelesetkannya dengan proses fotosintesis yang mungkin muncul jika kedua band ini manggung bersama. Seperti diketahui bahwa proses fotosintesis terbentuk dikarenakan adanya proses yang dibentuk oleh cahaya matahari dengan air dan karbondioksida yang kemudian membentuk klorofil dan energi. Nah, proses ini yang kemudian disamakan Dika dengan kedua kelompok musik ini jika seandainya kedua band ini manggung bersama di satu panggung dan kemudian akan terjadi proses fotosintesis. Kelucuan muncul karena makna pragmatis premis tersebut tidak mungkin terjadi, namun karena memiliki kesamaan dalam nama maka ia membuatnya seolah menjadi mungkin.Sehingga terjadilah kelucuan.
Semua jenis humor yang sering dilontarkan para komedian, comic, pembaca berita atau bahkan sahabat anda ketika berhasil membuat tertawa para pendengarnya diakibatkan oleh humor yang terbentuk sebagai akibat pelesetan fungsi bahasa. Permainan kata dan bahasa yang tidak lazim mampu menciptakan situasi yang mengundang gelak tawa karena ketidaksesuaian konten yang dibicarakan terhadap apa yang biasanya terjadi dalam fenomena kehidupan sehari-hari. Semakin jelaslah kiranya besarnya fungsi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya bahasa tidak pernah ada, apakah kita masih  mengenal tertawa? masih adakah esensi hidup jika bahasa tak pernah ada?
"Gott gab uns die Sprache, damit wir aneinander vorbeireden koennen."
(Tuhan memberi kita bahasa agar kita dapat berbicara satu sama lain)

SUMBER: http://anojumisa.blogspot.com, http://radityadika.com sorry gue copas hehehe ^^
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar